Konstruksi PLTU Batang Kembali Tertunda Akibat Masalah Klasik

PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) melansir persiapan konstruksi atas pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Batang, Jawa Tengah baru mencapai 90 persen.  Padahal, konstruksi proyek pembangkit berkapasitas 2×1.000 Megawatt (MW) tersebut ditargetkan bisa dilaksanakan pada akhir 2015 atau awal 2016.

“Setelah pembebasan lahan tuntas, proses kontruksi akan segera kami lakukan. Besarnya dukungan pemerintah terhadap proyek ini menunjukkan bahwa PLTU Jawa Tengah memiliki nilai strategis bagi ekonomi nasional,” kata Presiden Direktur BPI, Muhammad Effendi dalam keterangan resminya, Kamis (25/2).

Seperti diketahui, molornya megaproyek PLTU Batang tak lepas dari berlarutnya proses pengadaan lahan seluas 226 hektar yang baru tuntas beberapa waktu kemarin. Berangkat dari fakta tadi, Effendi tetap berharap pembangunan PLTU dapat selesai tepat waktu pada tahun 2020.

“Dengan komitmen dan dukungan dari pemegang saham dan pemerintah, BPI optimis pembangunan PLTU ini akan menjadi bagian dari solusi nasional dalam memenuhi kebutuhan energi,” tambah Effendi.

Sebagaimana diketahui, proyek PLTU Batang merupakan bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk mengoptimalkan sumber daya alam Indonesia bagi pembangunan.

Apalagi, dengan populasi yang terus bertambah kebutuhan energi akan semakin besar. Melalui pembangunan PLTU Jawa Tengah diharapkan kebutuhan listrik nasional yang tumbuh sekitar 8 persen per tahun dapat terpenuhi.

Sementara itu, sebagai bagian dari komitmen sosial kepada masyarakat dalam rangka proyek pembangunan PLTU Jawa Tengah, hari ini, BPI kembali melaksanakan penyaluran program kompensasi sosial kepada lebih dari 700 petani terdampak di sekitar area PLTU.

Di mana nilai yang diberikan sebagai kompensasi sosial telah dihitung dengan rata-rata luas lahan garapan, jumlah kali tanam, panen dan produksi rata-rata per tahun yang ditentukan melalui SK Bupati Batang.

Dari pertimbangan tersebut, masyarakat yang terdampak akan menerima dana kompensasi Rp 375.000 untuk petani terdampak, dan Rp 450.000 untuk buruh tani yang terdampak.

“Jadi perlu kami sampaikan, kepada petani dan buruh tani terdampak, BPI memberikan kompensasi sosial sebagai solusi jangka pendek. Sebagai solusi jangka panjang, sedang disiapkan lahan garapan pengganti untuk petani penggarap yang terdampak dan kami juga menawarkan alternatif pekerjaan pengganti,” jelas Effendi.  (gen)

Sumber : CNN Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *